• Default Language
  • Arabic
  • Basque
  • Bengali
  • Bulgaria
  • Catalan
  • Croatian
  • Czech
  • Chinese
  • Danish
  • Dutch
  • English (UK)
  • English (US)
  • Estonian
  • Filipino
  • Finnish
  • French
  • German
  • Greek
  • Hindi
  • Hungarian
  • Icelandic
  • Indonesian
  • Italian
  • Japanese
  • Kannada
  • Korean
  • Latvian
  • Lithuanian
  • Malay
  • Norwegian
  • Polish
  • Portugal
  • Romanian
  • Russian
  • Serbian
  • Taiwan
  • Slovak
  • Slovenian
  • liish
  • Swahili
  • Swedish
  • Tamil
  • Thailand
  • Ukrainian
  • Urdu
  • Vietnamese
  • Welsh
Hari

Your cart

Price
SUBTOTAL:
Rp.0

Suara Ibu Indonesia Bersatu: Tuntut Keadilan dan Tolak Represi terhadap Mahasiswa serta RUU TNI!

img

Zulfa.biz.id Bismillah semoga semua urusan lancar. Sekarang saya akan mengupas tuntas isu seputar Sosial Politik, Keadilan, Pendidikan, Hak Asasi Manusia, Gerakan Mahasiswa. Ringkasan Artikel Mengenai Sosial Politik, Keadilan, Pendidikan, Hak Asasi Manusia, Gerakan Mahasiswa Suara Ibu Indonesia Bersatu Tuntut Keadilan dan Tolak Represi terhadap Mahasiswa serta RUU TNI Pastikan Anda menyimak hingga bagian penutup.

Inisiatif Suara Ibu Indonesia lahir dari dua alasan penting, yaitu keinginan untuk melindungi mahasiswa yang melakukan demonstrasi menolak RUU dan UU TNI dari kekerasan aparat, serta untuk menyampaikan protes terhadap disahkannya UU TNI. Hal ini disampaikan oleh Avianti Armand, seorang arsitek dan penulis yang juga merupakan salah satu penggagas Suara Ibu Indonesia, saat mengadakan aksi di depan Gedung Sarinah, Jalan Thamrin, Jakarta Pusat, pada hari Jumat, 28 Maret.

Aksi ini menjadi awal perjuangan kaum ibu di Indonesia untuk memberikan perlindungan dan pendampingan kepada mahasiswa dalam menyuarakan penolakan terhadap revisi UU TNI. Dalam pandangannya, perempuan secara naluriah memiliki dorongan untuk melindungi keluarganya, terutama anak-anak yang mereka cintai. Keterlibatan perempuan dalam ruangan publik penting untuk mendukung anak-anak dalam perjuangan mereka. Hal ini diperkuat oleh pernyataan Karlina, yang mengatakan bahwa dalam situasi genting, seorang ibu akan bersedia untuk menjadi perisai bagi anak-anaknya.

Amnesty International Indonesia juga menekankan pentingnya perhatian terhadap catatan buruk militer dalam hal kekerasan dan pelanggaran hak asasi manusia (HAM). Mereka mencatat bahwa terdapat keterlibatan militer dalam 11 dari 12 kasus pelanggaran berat HAM yang diakui oleh negara. Menyusul hal ini, Arif khawatir jika militer tetap berperan dalam lembaga negara dan memengaruhi kebijakan, maka tidak akan ada jaminan bahwa setiap kasus pelanggaran HAM akan diusut secara adil.

Organisasi ini memandang bahwa usulan revisi UU TNI justru bertentangan dengan agenda reformasi yang seharusnya mendukung TNI sebagai kekuatan yang profesional dan sebagai alat pertahanan negara, sebagaimana diamanatkan dalam konstitusi dan demokrasi. Jika dibiarkan, hal ini bisa mengancam masa depan demokrasi Indonesia dan berpotensi membuat pelanggaran HAM meningkat di masa yang akan datang.

Dalam aksi ini, berbagai kaum ibu mengekspresikan kepedulian dan dukungan mereka terhadap mahasiswa yang berjuang menolak UU TNI. Salah satu tokoh, Sulistyowati Irianto, seorang Guru Besar dari Fakultas Hukum Universitas Indonesia, mengungkapkan keyakinan bahwa Indonesia selalu mampu keluar dari krisis. Dalam orasinya, Melani Budianta, seorang budayawan dan Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, mengingatkan bahwa 27 tahun lalu, anaknya juga pernah ikut dalam aksi yang menentang dwifungsi TNI. Oleh karena itu, para ibu merasa terpanggil untuk siap menjadi perisai bagi anak-anak mereka dalam perjuangan ini.

Hal ini sesuai dengan keyakinan bahwa jika kondisi ini terus berlanjut, maka penyalahgunaan kekuasaan dan pelanggaran HAM akan semakin meluas. Aksi Suara Ibu Indonesia menarik perhatian banyak orang di sekitar Gedung Sarinah. Para ibu yang terlibat dalam gerakan ini menegaskan bahwa mereka ingin anak-anak mereka mendapatkan perlindungan dalam setiap langkah perjuangan yang diambil. Kami, Ibu Indonesia, akan mendukung perjuangan mereka dengan ikut serta turun ke jalan dan melawan kekuasaan yang korup, tegas mereka.

Pengesahan RUU TNI sebagai undang-undang sudah menuai penolakan yang besar dari masyarakat, terutama di media sosial. Tagar TolakRUUTNI menjadi viral, dengan narasi Peringatan Darurat dan Indonesia Gelap kembali muncul di berbagai lini. Organisasi seperti Amnesty International Indonesia juga ikut menentang RUU ini. Arif Maulana, Wakil Ketua Bidang Advokasi YLBHI, menekankan bahwa usulan revisi yang diajukan oleh DPR dan presiden berpotensi menarik kembali TNI ke dalam ranah politik dan sosial-ekonomi, yang selama masa Orde Baru terbukti tidak sejalan dengan prinsip-prinsip negara hukum dan supremasi sipil, serta dapat merusak struktur demokrasi yang ada.

Gerakan Suara Ibu Indonesia ini menjadi simbol harapan bagi masa depan yang lebih baik, di mana anak-anak mereka dapat berjuang tanpa takut terhadap kekerasan dan intimidasi dari pihak manapun.

Begitulah suara ibu indonesia bersatu tuntut keadilan dan tolak represi terhadap mahasiswa serta ruu tni yang telah saya ulas secara komprehensif dalam sosial politik, keadilan, pendidikan, hak asasi manusia, gerakan mahasiswa Semoga artikel ini menjadi langkah awal untuk belajar lebih lanjut kembangkan hobi positif dan rawat kesehatan mental. Jika kamu suka Terima kasih atas kunjungan Anda

Special Ads
© Copyright 2024 - Zulfa's Journey: Sharing Stories & Insights
Added Successfully

Type above and press Enter to search.

Close Ads